Training Nanjak ke Golf Resort Gunung Geulis

Sabtu lalu, 6 Desember 2014, adalah pengalaman yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan.

Hari dimana ane mendapatkan uphill-cycling-training dari seorang member MAG senior, om Aziz Wibowo yang dikenal doyan ngasah dengkul ditanjakan.

Ini dia master uphill MAG

 

Bismillaah…
Dengan formasi 1-1-1 pergowesan dimulai. Di depan om Aziz selaku marshall memimpin perjalanan dengan gaya ride-like-a-pro. Di tengah, ustad Daniel aka Abu Faatema Ibnu Zubair selaku penasehat dan pembimbing rohani dengan gaya ride-like-the-wind, humble and stay calm. Mengekor ane dengan gaya ride-like-crazy, tanpa tehnik tanpa trik, pokoknya genjooott…

Ustadz Daniel aka Abu Faatema sang penjelajah…

Kami bertiga start dari masjid Gadog, menyusuri jalan kecil di pinggiran tol menuju arah Katulampa berlawanan arah dengan mobil2 yang menuju puncak. Sepanjang jalan ane hitung kurang lebih ada 5 pos kumpulan pak ogah yang berlagak polisi mengatur jalan memalak setiap mobil yang lewat. Hufftt… Ternyata masih ada aja rakyat Indonesia yang melestarikan dan mempertahankan mental-mental penjajah.

Onroad di sisi jalan tol

Beberapa kali kami berpapasan dan say-hello dengan beberapa goweser yg tengah istirahat. Setelah melewati jembatan kecil yang hanya cukup dilalui satu sepeda atau motor, kami tiba dan ambil beberapa gambar di bendungan Katulampa.

Menyeberang sungai melalui jembatan kecil

Menyusuri bendungan Katulampa

Hati kami sempat panas di tengah jalan menyaksikan anak SMP bermotor berboncengan tiga mengayun-ayunkan penggaris besi ditangannya sambil memukuli beberapa anak SMP lain yg mereka lewati. Tampang mereka seperti bocah ingusan yg terlalu cepat dikarbit dipaksa dewasa, persis banci alay Inbox yg diberi peran penjahat geng motor.

Perjalanan dilanjutkan melewati pemukiman desa dengan pemandangan kebon singkong kiri-kanan. Ane sempat nyeletuk menggoda ustad Daniel, “Disini kayaknya banyak orang Padang ustadz, tuh kiri kanan banyak daun singkong.” Hehe…

Memasuki pemukiman pedesaan…

Selepas itu, tanjakan pertama mulai menyapa ketika kami menyapu kaki bukit gunung Geulis. Pohon besar di kiri dan kanan menjadi pagar betis menyambut kedatangan kami, the three-gowesketeers.

Aroma udara dan kesejukan khas pegunungan menjadi doping bagi kami untuk terus menaklukkan tanjakan demi tanjakan. Hingga akhirnya kami sampai di Adventure Camp Gunung Geulis. Tentu tak lupa poto-potoan lagi sambil istirahat.

Nikmatnya kesejukan hutan kaki bukit…

Membelah hutan…

Tanjakan Cadasss!

Selanjutnya adalah rute onroad menuju kawasan private Padang Golf Gunung Geulis. Sebuah plang putih berkarat memperingatkan kami akan privasi ini, “Bukan Tempat Umum. Punten…! Ulah Ulin Di Dieu.” Kata teman ane yg Sunda, itu artinya dilarang bermain disini. Berarti itu tidak berlaku bagi ane yg Makassar, ustad yg Padang dan om Aziz yg … entahlah

 

Ulah Ulin Di Dieu

 

Tanjakan di arena onroad ini ternyata tak kalah sangar dalam menyiksa kami dibandingkan tanjakan offroad cadas yg telah kami lalui. Panjaaangg… lagi dan laaaagii…

Di setiap tanjakan, suasana hening sepi tanpa percakapan, semua tampak khusyu’ konsentrasi mengatur nafas mengurangi siksaan dengkul. Ane baru sadar bahwa ungkapan, “Saya Ganteng Karena Turunan, Kalo Tanjakan Jelek Lagi…” ada benarnya.

Tak ada usaha yg sia-sia. Nafas lega tampak di wajah kami setelah mencapai Padang Golf gunung Geulis. Bukan karena melihat banyaknya caddy-girls dgn pakaiannya yg mencolok, tapi karena kagum melihat betapa lukisan alam yg begitu luas dan indah memukau memanjakan mata. Ma syaa Allaah…

View from Golf Resort Gunung Geulis

Hey… ada caddy girls :p

The blues: “Lihat gunung Putri di sana? Suatu saat kita akan menaklukkannya, insya Allah…”   🙂

 

Habis pepotoan, kami lanjut menanjak panjang memutar menuju post warung peristirahatan. Sruput-sruput teh jahe hangat racikan si teteh dan sebuah pisang ambon cukup mengisi tenaga untuk tanjakan-tanjakan berikutnya yg sudah menanti.

Hah? Tanjakan lagi..? Keheranan bercampur rasa pegel itu berulang-ulang muncul.

Tak terihitung tanjakan yg telah kami lalui, tapi tanjakan di pertigaan Kawasan Pertanian Terpadu Mandiri adalah tanjakan yg paling ngehe dan bikin terngehe-ngehe. Mungkin kalo dibuat reality-tvshow bisa mengalahkan termehek-mehek.

Di tengah-tengah tanjakan yg serasa tanpa ujung, sesekali ane minta berhenti untuk pepotoan dgn alasan pemandangan yg indah dan sayang utk dilewatkan. Tapi om Aziz pastinya tau kalo itu cuman alasan ane tuk istirahat, hehe.. Ternyata ustdz Daniel pun tampak kewalahan. Dan karena ane toleransi dan setiakawan, akhirnya ane berhenti istirahat menemani ust Daniel. Hehe… alasan. Maaf ustadz

Tanjakan terngehe-ngehe…

We did it…!

 

Akhirnya siksaan itupun berakhir dgn rute selanjutnya yg membuat kami sedikit lega. Rute yg akhirnya mengembalikan kegantengan kami bertiga, yaitu turunan offroad yg membelah gunung, melewati tanah Tommy, teruuuusss hingga kami kembali di lampumerah pertigaan depan masjid Gadog.

Alhamdulillaah… Kami bertemu, berpisah, dan saling mencintai karena Allah.

Jazakumullohu khoiron bagi om Aziz dan ust Daniel atas training dan pengalaman yg luar biasa.

Demikianlah perjalanan seru yg mengisi hari kami…

Ready to rolling down…

 

Note: Melihat power dan skill nanjak om Aziz, ternyata benar beliau bukan atlet seperti yg tertulis di jerseynya. Bukan sekedar atlet, tapi Pelatih, Coach, Masternya Atlet!!!

Bukan atlet, tapi pelatih, master, suhu… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s