TEMAN TAPI RACUN

Teman di efbi ribuan jumlahnya…
Teman di phonebook juga bejibun…
Teman di kantor capek ngitungnya…
Teman kajian, wow… ma syaa Allah…
Namun pernahkah kita berpikir mana teman yang benar-benar teman?

Katanya “you are who your friends are”. Yang katanya kita dapat menilai seseorang dari siapa teman dekatnya.

Mmmm… coba kita tengok tulisan ringkas di bawah tentang teman tapi racun. Barokallohu fiik…
~~~

TEMAN TAPI RACUN…
Oleh ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Untuk menyematkan label teman pada orang lain, setiap orang punya alasan yang berbeda. Si ini karena harta, si Itu karena rupa, si Ini-2 karena akhlaknya, si Itu-2 karena tahta ataupun status sosialnya dan juga banyak yang karena tak berkarena. Setelah berkontemplasi ringan di bawah terpaan sinar matahari pagi tadi, sekiranya alasan-alasan tadi bisa diklasifikasikan menjadi dua, “karena dunia atau akhirat”.

Teman dunia dan teman akhirat. Ya, bagi mereka yang melambari persahabatan tadi dengan pondasi duniawi, maka rapuhlah ia. Terlebih apabila dalam koridor yang jelas-jelas mencoreng nilai-nilai normatif dan agama. Dan yang melandaskan persahabatannya karena Allah maka persahabatan itu akan kekal.

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

“7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan Allah ….. 2 orang yang saling mencintai karena Allah. Saling bertemu karena Allah, dan berpisah karena Allah pula.”

Katanya, “As Shahibu saahib” (Teman itu menyeret). Gamblang sekali, tak kurang referensi yang memuat kisah-kisah yang menggambarkan betapa benarnya ucapan ini.

Berteman dengan pejudi, kelak ia akan terseret ke dalam nistanya dunia perjudian. Berteman dengan si Pemalas, maka lambat laun ia pun akan terjangkiti rasa malas. Berteman dengan si Pembohong, maka akan tiba saatnya ia pun akan menikmati statusnya sebagai pendusta. Atau bahkan (kalau ia pria) bersahabat dengan -maaf bencong, maka seiring bergulirnya waktu, ia pun akan bertransisi status menjadi … semi-pria. It’s real !

Tapi tenang, selain ‘seretan negatif’ tadi, juga ada ‘seretan positif’. “Teman itu menyeret”. Kalimat ini kembali menunjukkan supremasi dan validitasnya. Berteman dengan orang alim, sedikit demi sedikit akan menyeret seseorang dari kelamnya kebodohan menuju cahaya ilmu. Berteman dengan si Taat, kelak suatu saat ia akan tergerak dan termotivasi untuk giat beribadah. Begitu halnya bersahabat dengan si Visioner, ia pun lambat laun akan tergerak untuk menata masa depannya, menjemput janji-janji kehidupan yang lebih baik.
Saya akhiri tulisan ini dengan sebuah quote yang disampaikan oleh seorang guru besar

“Temanilah orang yang apabila engkau melihatnya, membuatmu mengingat Allah. Perkataannya menambah ilmumu. Dan dengan melihat amalannya, engkaupun tergugah untuk mempersiapkan akhiratmu.”

~~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s