Shalat Pertama

‪#‎Cerpen‬‪#‎Fiksi‬

Shalat Pertama
Oleh: Sirun Muyassirun

Sayup-sayup adzan terdengar merdu nan indah.
Kulihat dua orang tua yang sangat kucintai membuka pagar hendak keluar rumah.
Sepintas terlihat sejadah dan rukuh di tangan mereka.
Hatiku tergetar. Tiba-tiba rasa senang bercampur ragu dan tanya menyeruak.

“Mau kemana, Yah?” Tanyaku dengan suara bergetar.
“Mau sholat.”

Jantungku tiba-tiba meningkatkan ritmenya seiring rasa penasaran yang kian membuncah.
“Sholat di mana, Yah?”
Pertanyaan itu langsung meluncur cepat berharap jawabannya sesuai harapanku selama ini.
“Di Masjid depan.”

Aku terpaku seakan tak percaya apa yang barusan kudengar. Setelah 53 tahun akhirnya Ayah dan Ibu mau menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di masjid mungil itu.
“Alhamdulillaah,” hatiku memekik.

Kutatap mata tuanya lamat-lamat dengan wajah sumringah.
Ayah membalas dengan senyum lebar disertai tatapan mata berbinar seakan-akan menjawab keraguanku.

“Ayah sudah membaca bukumu.” Katanya berbisik.

“Alhamdulillaah!” sekali lagi batinku berteriak keras tak terdengar.
Langsung kupeluk tubuhnya yg mulai renta. Kudekap erat sekali seiring tangisan bahagiaku.
Ibu ikut tersenyum haru, larut melihat air mataku yang terus mengalir dengan sesenggukan lirih.
***

(Sebulan yang lalu)

“Dasar bodoh! Kenapa kau shalat di masjid situ?” Ayah membentak dengan otot leher menegang.
“Ayah … shalat berjamaah di masjid itu wajib bagi laki-laki.”
“Ia, tapi jangan di masjid itu! Mereka pakai usholli, qunut subuh, maulidan, bid’ah! Imamnya bukan jamaah kita. Tidak sah makmum di belakang mereka!”
“Tapi Yah ….”
“Kalau kamu sudah ikut mereka, tidak ada tempat bagimu di sini.” Ayah berbalik badan lalu membuka pintu lebar-lebar.
“Maafkan aku Ayah ….“ Kupeluk dan kukecup keningnya sambil berbisik, “Aku mencintai Ayah karena Allah.”

Tangis Ibu di kamar terdengar lebih keras. Ia mengunci diri sejak awal pertengkaran kami. Berkemas dengan baju seadanya aku meninggalkan rumah.

Sebuah kitab terjemahan yang telah merubah pemahamanku sengaja kutinggalkan di atas meja ruang tamu. Intisari Aqidah Ahlussunnah Waljamaah karya Abdullah Bin Abdul Hamid.
***

Tetangga ramai berkumpul di masjid menyambut kedatangan Ayah dan Ibu. Wajah mereka berseri-seri seakan bertemu saudara yang baru balik dari perantauan bartahun-tahun. Tak ketinggalan ustadz Subhan menjabat erat dan memeluk Ayah. Tak sedikitpun kekesalan tampak di wajahnya setelah pernah diusir oleh Ayah saat menasehatinya agar shalat berjamaah di Masjid.

Tiba-tiba mataku berkunang-kunang disertai pusing tak tertahan hingga jatuh pingsan.
Ketika sadar, aku masih terbaring di teras masjid. Jamaah tampak lebih ramai dari biasanya. Di sampingku Ibu terduduk menangis terisak.
Ibu berbisik, “In sya Allah, Ayahmu khusnul khotimah. Ia dipanggil di sujud terakhirnya ….”

Mataku kembali berkunang-kunang.

Cipayung, 20150806

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s