Reportase Gobar Merdeka MAG Di NuRA

Reportase Gobar Merdeka MAG Di NURA
29 Agustus 2015

image0011MAG_Nura_20150829

Bismillah.

Dua pekan selepas hari kemerdekaan negeri tercinta, tepatnya Sabtu lalu 29 Agustus 2015, Muslim Adventure Group kembali mengadakan gobar, gowes bareng. Gobar ini bukan dalam rangka memperingati ulangtahun negeri yang memasuki usia senja atau sebagai ritual selebrasi untuk mengisi kemerdekaan. Ini hanya gowes biasa untuk olahraga dan silaturahim bersama saudara muslim sehobi. it’s just a ride, an usual ride with MAG & friends.

Tikum dijadwalkan jam 7 di masjid Harakatul Jannah, Gadog. Karena mengingat pengalaman lalu di mana peserta tidak sedikit yang telat, jam 4:36 menjelang subuh, om Adhany sudah teriak-teriak membangunkan peserta gobar di group WA. Yah, maklumlah sebagai ketua MAG yang bertanggung jawab ia harus seperti Yamaha, selalu di depan. Jozz…!

Oh, iya… malam menjelang hari H, beberapa calon peserta memberikan kabar burung, eh kabar duka, karena tiba-tiba batal ikut gobar. Salah satunya adalah seorang yang dikenal sebagai penggemar tanjakan penikmat trek-trek menantang langit, om Aziz Wibowo. Salah duanya adalah seorang yang dikenal sebagai tabib sekaligus direktur utama klinik kesehatan thibbun nabawi Albani. Ia adalah om Syarif Hidayat. Salah tiga sekaligus empat, adalah soulmate brewok keren yang tidak ada hubungan darah namun tindak-tanduknya seperti kembar siam, om Raafi dan om Inon. Jika satu gak ikut, hampir dipastikan satunya gak bakal nongol, kecuali terpaksa. Dan pengunduran diri terakhir datang dari sang pendaki ulung, Abu Fahd.

Pembatalan sepihak oleh beberapa peserta di atas tidak menyurutkan kemeriahan gobar kali ini. Semua tetap berjalan sesuai rencana. Dan satu yang kami apresiasi adalah seorang yang awalnya tidak masuk daftar peserta malah di hari H memutuskan untuk ikut meramaikan acara. Dia adalah seorang yang dikenal lincah, gesit, sigap, tangkas, terampil dan cakap di trek-trek off road berbahaya dan memacu adrenalin yang mana kelebihannya itu dapat dirangkum dalam satu kata, ‘pecicilan’. Hehehe. Dia adalah om Amril Tandjung.

Sekitar jam 7 lebih dikit, saya, om Bayu dan pak Makmur tiba di masjid Gadog yang disambut oleh dua orang satpam dan beberapa sopir angkot. Di lokasi om Adhany, om Rudi, om Faisal, om Teddy sudah siap dengan tunggangan dan seragam kebanggan MAG. Sedangkan pak Anto, om Amril, dan beberapa peserta lainnya sudah meluncur duluan menuju Mang Ade.

Sekitar jam 7:20, saya, om Bayu, pak Makmur dan om Teddy lalu loading dalam satu angkot kemudian segera berangkat untuk menghindari macet. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, ternyata akses menuju mang Ade diberlakukan buka-tutup jalan sebelum kami tiba di sana. Terpaksa kami dan beberapa peserta lainnya harus bersabar lebih lama di dalam angkot yang berbaris tidak rapi.

DSCN1678 MAG_Nura_20150829

Jam 8:40, angkot yang kami tumpangi tiba di depan mang Ade. Disusul kemudian angkot om Adhany dan angkot yang membawa al ustadz al mukarrom Derma Permana. Setelah semua peserta sarapan dan mempersiapkan tunggangan masing-masing, kami berkumpul di depan warung mag Ade untuk foto keluarga. Kejuu… jepret!

Sebelum ekspedisi bersepeda dimulai, pak Anto mengingatkan agar setiap peserta tidak lupa untuk berdoa demi kelancaran dan keselamatan. Jam 9:30 saat matahari mulai terasa terik, kafilah bersepeda bergerak beriringan meninggalkan warung mang Ade. Perjalanan dimulai dengan melintasi jalan raya Raya Puncak lalu masuk ke arah kaki gunung Gede Pangrango yang menyajikan jalan aspal kasar menanjak beberapa ratus meter. Sajian pembuka yang pas untuk pemanasan sekaligus mengukur stamina. Hehe…

Foto Keluarga MAGMAG_Nura_20150829

Ternyata om Adi, om Dinar dan om Doan memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan. Mereka memilih jalur RA classic untuk kemudian bergabung kembali dengan rombongan di sekitar Gunung Mas. Jika saja mereka tidak mengantongi ijin pak ketua dan restu dewan penasehat, mungkin mereka termasuk orang-orang yang membelot, faroqol jamaah. Hehehe…

Rombongan kami berhenti dan grouping tepat di mulut jalan setapak yang membelah hutan. Alhamdulillah semua peserta berhasil menyelesaikan tanjakan menuju persinggahan pertama tanpa ini ada hambatan. Walau ada beberapa yang harus berhenti untuk menarik nafas. Alumni Cioray? Jangan ditanya, tentu semua lulus di tanjakan yang tidak ada seperlimanya ini, kecuali yang tidak saya lihat ya…

MAG_Nura_20150829

MAG_Nura_20150829DSCN1703

Sebagai penghormatan dan penghargaan, om Harry diminta untuk memimpin sebagai Road Captain, memimpin rute perjalanan. Sempat terjadi negosiasi sebelum dia bersedia. Syaratnya, di belakang om Harry haruslah om Akbar yang membawa kamera GoPro dan bertugas merekam perjalanan kami. Wah, ternyata om Harry tetap berjiwa muda, tetap mau eksis, hehe… Setelah deal, om Harry lalu dengan sigap meluncur melibas jalan setapak tanah berdebu diikuti om Akbar dan yang lainnya. Wuzzz….

MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829

Sepeda kami berlari kencang di antara pepohonan dan semak belukar membentuk lorong panjang. Baru beberapa detik menikmati jalan landai, kami dihadapkan pada tanjakan tanah berundak dengan akar-akar pohon yang lumayan tinggi dan tidak gowesebel. Terpaksa kami turun dan tetebe. Setelah itu kami kembali menghadapi tanjakan. Tapi kali ini bisa digowes, namun lumayan menguras keringat dengan jalan tanah berbatu.

Di ujung tanjakan ini, kami kembali berhenti menunggu peserta yang lain. Ternyata om Pendi dari MAG chapter Bekasi yang pertama kali mengisi list insiden gobar kali ini. RD-nya patah menghajar batu dan memaksa sepedanya berubah wujud menjadi fixie, single speed. Di sini kami terhenti hampir setengah jam. Untunglah ada om Harry yang setia berkelakar membunuh waktu, killing time. Ngomongin banyak hal, mulai dari sepeda antik hingga hingga politik, mulai dari fork hingga Ahok, upss!!!

MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829

MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829

Perjalanan kembali berlanjut dengan hidangan jalan tanah menurun. Tapi lagi-lagi belum puas menikmatinya, baru beberapa ratus meter kembali tanjakan menghadang. Tanjakan tanah merah bekas aliran air dan lumayan mancung. Tetebe lagi sekaligus grouping ulang di ujung tanjakan. Dan tentunya tak lupa pepotoan juga. Saat sesi foto ini empat penunggang santacruz menyempatkan welfie sendiri.

MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829

Selepas itu perjalanan barulah terbilang nikmat. Menyusuri kaki gunung dengan rute meliuk-liuk membelah hutan. Kami melintasi jalan dengan medan warna-warni. Jalan tanah yang berdebu, rintangan batu besar, akar pohon yang mengular, bekas tananh longsoran penuh ranting, pohon tumbang yang menutup jalan membentuk terowongan, semuanya silih berganti menjadi sajian lengkap penuh cita rasa tantangan yang mengasyikkan. Tentu saja dibumbui dengan beberapa tanjakan dan beberapa drop-off sebagai pelengkap rasa.

Di jalur ini daftar insiden bertambah. Om Yudha mengalamai putus rantai, om Adhany forknya ngempos, ndlesep, ambles mentok sampai bawah, dan beberapa peserta lain juga mengalami terpeleset, njungkel, nyungsep, nyusruk, dan lainnya. Memang dibutuhkan keahlian, pengalaman dan tentu saja konsentrasi penuh untuk melibas semua lintasan tersebut. Dan tentu saja yang paling happy dengan rute ini, terutama di spot drop-off, siapa lagi kalau bukan ‘The Peciciler’. Hehe…

DSCN1744 DSCN1746 DSCN1749 DSCN1754 DSCN1757 DSCN1764 DSCN1771 MAG_Nura_20150829

Kami kemudian berhenti sejenak di pertigaan persimpangan turunan Leci. Jalan tanah merah berdebu ini katanya terkenal banyak memakan korban karena curam dan licin saat hujan. Sebenarnya mendengar cerita itu adrenalin saya terpacu dan pengen mencoba, tapi karena sudah ditutup, ya sudahlah…

DSCN1811MAG_Nura_20150829DSCN1809

Perjalanan dilanjutkan melalui turunan makadam. Turunan tetap meliuk-liuk namun kali ini jalan berbatu. Bongkahan batu karang, cadas keras, lepas terhempas saat dilibas. Sadiss…!
Alhamdulillah, peserta gobar ternyata tak gentar dan tak surut nyali. Mereka tetap tampak asyik di atas tunggangan masing-masing. Walaupun catatan insiden kembali bertambah. Fork Commencal om Akbar ikut-ikutan ngempos. Om Rudi the jomblo tak mau kalah. Ia kembali beraksi dengan gaya khasnya, berhasil nyusruk dengan gemilang. Namun dengan tangkas ia melompat dan berdiri tegap memberdirikan sepedanya. Mungkin takut ada paparazzi yang mengabadikan momen terindah itu. Haha…

Yang agak menghawatirkan adalah insiden yang menimpa om Dicky, sobat MAG dari Cilebut. Om Rudi the jomblo yang menjadi saksi hidup mengatakan jika om Dicky juga nyungsep di makadam dengan face-landing. Hidung lecet dan pelipis kanan yang sedikit robek mengalirkan darah segar. Dengan sigap om Ryan Azhar langsung membantu penanganan luka om Dicky. Dari kelincahannya, sepertinya om Ryan sudah pernah training P3K. Hehe… Salut deh pokoknya.

DSCN1813DSCN1815 MAG_Nura_20150829

Kami pun berhenti di ujung turunan tepat di sebuah warung kecil. Di sini om Riyadi, om Adi dan om Doan yang di awal perjalan membelot, eh berbelok arah, telah menunggu dan kembali bergabung dengan rombongan besar. Semua peserta memanfaatkan untuk beristirahat sambil mengeluarkan perbekalan, snack dan minum. Tak lupa pula jeprat-jepret apalagi tepat di depan warung terhampar bukit yang hijau oleh pepohonan teh.

DSCN1820 DSCN1823 MAG_Nura_20150829

Sementara itu di belakang warung, ternyata Haji Makmur sedang asyik menyantap lahap semangkuk mie panas. Ia kepergok om Adhany yang sedang patroli mengawasi seluruh peserta. Mmm… mungkin ini rahasia beliau. Karena di umur beliau yang sudah tidak muda lagi, sepanjang perjalanan masih tetap lincah dan energik melibas semua trek. Bahkan selalu di bagian terdepan. Sepertinya MAG perlu mencatat rahasia ini.
“Indomie!”

MAG_Nura_20150829

Setelah melepas lelah, sepeda-sepeda kami kembali berlari di antara rumah penduduk desa Gunung Mas. Tiba-tiba terdengar suara adzan dzuhur memanggil bertepatan dengan tibanya kami di lingkungan PTP XI Gunung Mas. Di sini banyak terdapat warung-warung makan yang memang menjadi tempat istirahat dan makan bagi para goweser.

Kami pun kemudian menunaikan shalat dzuhur berjamaah lalu menyantap makan siang. Pilihan saya, pak Anto, om Bayu, om Amril, om Yuda dan om Rudi the jomblos jatuh pada toge goreng sementara om Faizal, om Denny dan yang lain memilih warung sebelah yang menjual soto dan bubur ayam. Alhamdulillah hak dan kewajiban bisa kami tunaikan semua. Haadzaa min fadli Robbina.

DSCN1836 DSCN1842 DSCN1847 DSCN1848  MAG_Nura_20150829DSCN1859

Sebelum meninggalkan masjid dan melanjutkan perjalanan, semua peserta menyempatkan foto keluarga. Selanjutnya kami memasuki area perkebunan teh yang hijau menghampar luas. Melewati jalan kecil berdebu tebal di sela-sela kebun teh. Selepas itu kami melalui jalan aspas kecil. Di sini kami berpapasan dengan motor trail yang mengaum-ngaum memasuki perkebunan teh yang tadi kami lewati. Gak kebayang bagaimana debu-debu akan beterbangan apabila berada di belakang motor-motor itu. Berada di belakang sepeda Transition om Amril dengan ban pacul aja bikin sesak apalagi motor-motor itu.

DSCN1867 DSCN1871 DSCN1875 MAG_Nura_20150829

Sepeda-sepeda kami melanjutkan perjalanan berpacu melewati jalan aspal landai. Turun dan turun terus melewati kebun teh, perumahan penduduk, hingga tiba di pusat penjualan oleh-oleh. Ternyata kami memasuki wilayah Taman Safari. Kami pun berlalu di antara kios-kios souvenir dan panganan khas Bogor itu menuju trek Ngehe!

Nama yang kondang dan makruf bagi pesepeda termasuk saya. Namun saya sendiri belum pernah mencicipinya. Di tanjakan kecil pertama sekumpulan bocah-bocah seumuran anak SD berteriak menyapa.
“Joki om … Joki om …?”
Saya dan semua peserta gobar tentu menolak jasa joki-joki kecil itu. Bukan karena kami sayang duit, tapi karena kami adalah petualang sepeda yang siap menghadapi segala medan!

DSCN1894 DSCN1901

Saya melihat jalan yang memang mendaki dan namun tidak terlalu panjang. Ujungnya kelihatan. Dalam hati saya ini tidak seberapa. Tidak ada seperempatnya tanjakan Cioray. Semua peserta tampak tidak menemui masalah melewati tanjakan ini walau semuanya berjalan perlahan sambil mengatur nafas.

Tapi ternyata ini tanjakan pertama, tanjakan pemanasan atau lebih dikenal dengan nama Ngehe Kondangan. Karena selepas ujung tanjakan itu jalan sedikit menurun lalu bersambung dengan tanjakan berikutnya. Tanjakan kedua ini ternyata panjang sejauh memata memandang. Dan di bagian ujung sana ternyata lebih mancung lagi menantang langit. Glek!

Beberapa peserta menampakkan raut muka yang biasa. Terutama om Adi dan om Riyadi yang mengikuti mazhab tanjakiyyun mengikuti om Aziz. Tapi bagi saya yang baru pertama kali, sedikit merasakan kecut. Baru beberapa puluh meter nafas mulai ngos-ngosan disertai keringat yang mulai bercucuran. Tepat di depan saya, om Adi tetap mengayuh dengan santai. Tubuhnya yang agak tambun (bukan Bekasi) ternyata sama sekali tidak memberatkan setiap kayuhannya. Sedangkan saya yang cenderung kurus malah kelihatan tersiksa di setiap genjotan.

DSCN1903 MAG_Nura_20150829

Di pinggir jalan di depan sana, tepat sebelum tanjakan menuju ngehe 1, om Akbar, pak Makmur dan beberapa peserta lain sedang duduk-duduk istirahat. Perlahan tapi pasti saya memaksakan diri terus gowes tanpa berhenti hingga sampai di sana. Uluhati saya terasa agak sakit tertusuk. Mungkin sepiring toge goreng dan semangkuk bubur ayam sebagai penutup saat maksi tadi terlalu berlebihan. Hehe…

Ternyata om Adi yang berada di depan saya tidak ikut berhenti untuk istirahat. Ia lanjut terus melahap tanjakan hingga di ujung sana sementara om Dinar sudah berbalik dari arah tanjakan itu. Kayaknya mereka memang sudah sangat bersahabat dengan tanjakan. Mazhab tanjakiyyun om Aziz sepertinya memiliki pengikut setia. Hmmm…

Om Demoko ternyata memutuskan naik ojek motor sedangkan sepedanya diserahkan kepada joki. Husnudzonnya, mungkin om Demoko ingin bersedekah kepada tukang ojek dan bocah joki itu karena melihat tak ada satupun peserta yang memanfaatkan jasa mereka. Sementara itu bocah joki yang membawa sepeda om Demoko tampak menggoda om Pendi aka Abu Baro dengan mengajaknya berlomba ke atas. Ia tertawa-tawa sambil menggenjot sepeda yang kebesaran itu dengan entengnya, sedangkan om Pendi tampak ngos-ngosan mencoba mengejar. Dasar bocah! Hahaha…

MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829 DSCN1909 MAG_Nura_20150829

Semua peserta telah berkumpul kecuali satu orang. Om Yudha the jomblo ternyata tertinggal di belakang. Dari kejauhan dia kelihatan tetebe dengan sabar. Kami mengira dia kehabisan nafas dan tenaga. Ternyata sepedanya mengalami masalah untuk kedua kalinya. Kali ini baut swing-arm copot sehingga ban belakangnya miring rapat menyentuh seat-stay.

Beberapa peserta lalu berkerumun untuk membantu memberikan solusi. Om Pendi mengeluarkan sebuah baut tapi ternyata kurang panjang. Akhirnya solusi terakhir peserta saweran kabel ties sebagai pengganti baut. Sementara itu di belakang kerumunan itu om Teddy dengan asyik duduk bersandar sambil melahap kwaci. Ia kelihatan melamun sambil menikmati setiap bulir kwaci dengan santai. Hingga ia ditegur oleh om Harry yang sedari tadi memperhatikan di sampingnya. Serempak semua peserta tertawa melepas penat. Haha…

DSCN1926 DSCN1925 MAG_Nura_20150829MAG_Nura_20150829

Atas pertimbangan maslahat, kami berbelok ke kanan meninggalkan tanjakan ngehe menuju perkebunan the. Persinggahan berikutnya adalah dangau/saung di tengah kebun teh untuk mendengarkan tausyiah singkat dari ustadz Derma aka Abu Qais. Ini sudah menjadi komitmen MAG bahwa di setiap event gobar akan diadakan tausyiah singkat. Itulah pembeda sekaligus ciri khas MAG diluar kekhasan yang lain seperti tidak merokok, tidak memutar musik, dan tidak membuang sampah sembarangan.

DSCN1937 DSCN1938 DSCN1940 MAG_Nura_20150829

Ternyata saung yang dituju sudah tak berbentuk lagi. Dinding dan atapnya telah hilang. Akhirnya tausiyah dilaksanakan di bawah pohon tepat di samping saung. Acara tausyiah dibuka oleh Humas MAG, om Amril, dengan terlebih dahulu memperkenalkan pengurus baru MAG. Setelah itu barulah mempersilahkan ustadz Derma untuk memberikan wejangan. Tausyiah berlangsung kurang lebih 10 menit dengan mengangkat tema ‘attakwa’. Beberapa point yang sempat kami catat antara lain:

1. Bersukur atas nikmat yang telah Allah berikan
2. Dua nikmat yang sering dilalaikan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang.
3. Event ini merupakan momen untuk olahraga dan silaturohim.
4. Ketakwaan akan menjadi tameng bagi setiap muslim dari adzab Allah.
5. Ketakwaan juga menjadi barometer kedekatan seseorang kepada Allah
6. Berusaha menjaga ketakwaan dengan bergaul dengan orang-orang sholih.
7. Berteman dengan orang sholih seperti bergaul dengan penjual minyak wangi. Dan berteman dengan orang buruk seperti bergaul dengan tukang besi.

Jazakallohu khoiron kepada ustadz Derma yang berkenan memberikan tausyiah di event gobar ini.

Sungguh poin terakhir dari tausyiah ustad Derma di atas adalah alasan sekaligus latarbelakang saya dan beberapa ikhwan lainnya bergabung dengan MAG. Komunitas muslim ahlussunnah yang memiliki semangat dan kecintaan pada olahraga, khususnya sepeda, hiking dan petualangan lain.

DSCN1947 DSCN1956 MAG_Nura_20150829

Sesi tausyiah kemudian ditutup dengan perkenalan diri oleh setiap peserta gobar. Perjalanan pun berlanjur melewati jalan setapak kebun teh lalu kami memasuki area taman nasional Gunung Gede Pangrango. Kami berhenti sejenak untuk berkumpul setelah itu kembali masuk hutan melewati rindangnya pepohonan.

Sekitar jam 3 sore di tengah hutan, kami tiba di tiga percabangan jalan. Yang kiri ke arah Pesantren Alam Agrokultural Mega Mendung, yang kanan ke arah Taman Safari sedangkan yang lurus mengarah ke Gadog, tujuan akhir kami.

DSCN1964 DSCN1969 DSCN1980 DSCN1984 DSCN1985 DSCN1995 MAG_Nura_20150829

Di sisa-sisa tenaga yang tersisa, kami meluncur terus menuju arah Gadog melintasi hutan hingga sampai tanah beraspal. Sepeda kami oleng ke kiri dan ke kanan mengikuti irama jalan menurun yang terbilang sepi. Ini memotivasi kami untuk menambah kecepatan meluncur cepat hingga kami tiba di warung kecil tepat di pertigaan.

Pak Anto selaku penasehat MAG meminta semua berhenti di sini untuk istirahat sekaligus memastikan tidak ada peserta gobar yan tertinggal. Setelah semua peserta berkumpul, kami pun beriringan melaju kencang menyusuri jalanan aspal menuju masjid Gadog dengan perasaan girang dan gembira. Puass…!

DSCN2004 DSCN2007 DSCN2008 DSCN2009 DSCN2011 MAG_Nura_20150829

Demikian reportase Gobar Merdeka MAG di Nura kami tuliskan.
Segenap pengurus dan anggota MAG mengucapkan terimakasih kepada seluruh sobat dan sahabat MAG yang ikut meramaikan acara ini.
Terkhusus kami ucapkan jazakallohu khoiron kepada ustadz Derma yang telah memberikan tausyiahnya.

Jabat erat.
Wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s